Jalur SLG Dialihkan, Masyarakat Tugurejo Protes
KEDIRI.,-Masayarakat Desa Tugurejo Kecamatan Gampengrejo, mengeluh akibat pengalihan jalur lalu lintas di Simpang Lima Gumul. Akibat pengalihan jalur tersebut, kehidupan ekonomi warga di sekitar monumen Simpang Lima Gumul (SLG) turun.
Pengalihan arus lalu lintas berlaku sejak 24 Septrember 2008 lalu. Warga kemarin berkumpul membahas bagaimana atas nasib mereka selanjutnya, Sabtu (11/10) lalu warga berkumpul. Hasilnya, warga sepakat memprotes penutupan jalur lama di Jalan Erlangga sebelah selatan Monumen SLG. Warga berencana mengadukan nasibnya ke DPRD
Salah seorang , warga Desa Tugu Rejo Zaini, sebagai ketua Forum Warga mengatakan bahwa warga hanya meminta agar jalur lama di Jalan Erlangga dibuka kembali meski dengan hanya satu arah dari timur ke barat. Tuntutan ini pun juga memperhatikan keselamatan pengguna jalan.. “Kalau jalur barat dibuka memang berbahaya rawan kecelakaan, kami minta agar di buka satu arah saja, “ujar Zaini
Menuru warga, penutupan jalan tersebut jelas membunuh, perkonomian warga secara secara perlahan, karena kebanyakan ekonomi keluarga dari arus lalulintas jalan tersebut. Warga ada yang berjualan bakso, serta berdagang jenis lain.. Ditambahkannya, Warga mengancam jika nanti tuntutannya tidak dikabulkan maka akan melakukan pencopotan paksa rambu-rambu lalu lintas. Hal ini dilakukan warga karena sudah merasa sangat dirugikan oleh pemberlakuan jalur baru trersebut.
Windaru, Ketua RW I Desa Tugurejo menyatakan warga secara resmi belum pernah menerima pemberitahuan dari Pemerintah Kabupaten Kediri. “Tidak adanya pemberitahuan tersebut juga mengakibatkan kerugian besar pada kami, karena kami terlanjur berbelanja dagangan sebelum lebaran”ujar Windaru.
Lebih lanjut, Windaru mengungkapkan bahwa warga yang berada di jalan yang ditutup total tersebut ada 30 KK. “Kami memerlukan penghasilan untuk menghidupi keluarga. mohon ada perubahan sikap pemerintah untuk membuka jalur lama.,”kata Windaru.
Windaru. Menegaskan, bahwa dengan membuka satu arah jalan pada jalur lama di sebelah selatan SLG , sebenarnya telah menyelesaikan masalah bagi warga untuk terus menjalankan roda kehidupan perekonomian. “Kalau nasib kami harus menunggu sampai selesainya proyek SLG yang diperkirakan masih butuh waktu sekitar 10 tahun, jelas itu sama halnya membunuh. Kami menduga, penutupan total jalur tersebut bertujuan politis agar warga bersedia membebaskan lahannya dengan harga murah, pasalnya jalur tersebut telah mati.
Sementara itu, Kabag Humas Pemkab Kediri Sigit Rahardjo mengatakan Pemkab tidak akan membuat kebijakan yang dapat membunuh ekonomi rakyat. “Justeru kita membuat kebijakan ini untuk meningkatkan ekonomi rakyat. Karena SLG nantinya akan menjadi pusat ekonomi baru”, katanya.
Sigit membantah pihaknya tidak peduli dengan keberadaan para pedagang kaki lima (PKL) di jalur lama. Untuk jangka panjang, kata Sigit, Pemkab telah berencana menyediakan tempat khusus bagi para PKL, ruko, maupun pedagang grosir di area SLG. Sedangkan untuk jangka pendek, Pemkab masih membuka jalur lama bagi para pengendara roda dua sembari menunggu pelaksanaan pembangunan konstruksi. “Jadi para pedagang ini masih bisa dikunjungi pembeli”, kata Sigit. Sementara itu, bagi pengunjung yang menggunakan kendaraan roda empat, lanjut Sigit, mereka bisa memarkir kendaraannya di areal SLG yang tidak jauh dengan lokasi para pedagang.
Disinggung tentang pengalihan arus lalin, Sigit kembali menegaskan pengalihan tidak semata-mata untuk mengenalkan SLG tetapi juga dilakukan sebagai upaya menekan angka kecelakan dan, kemacetan, di lokasi Simpang Lima Gumul. “Jalur SLG itu milik propinsi, jadi wajar jika diatur jangan sampai semrawaut dan macet”, ujar Sigit. (nal)
Ngaji
Zainal
Selasa, 14 Oktober 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar