Ngaji

Ngaji
Zainal

Rabu, 01 Agustus 2007

TOTO MENULIS ESAY

Home Cerpen Puisi Apresiasi Resensi Penulis Tentang

Fresh...!

buku cerpen kompas

Kira-kira setahun silam, kami menghimpun rapat kecil di sebuah kedai indomie yang tak begitu laku (supaya kami bisa berdiskusi berlama-lama). Belasan cerpen kami "sidangkan" hingga larut malam. Puluhan berkas survey melalui surat internet sudah kami sebar ke pembaca sejati kami. Mereka memilih tak jauh dari perkiraan kami. "Wah, tradisi kami tak jauh dari tradisi pembaca kami," begitu ujar salah seorang dari kami. Siapa kami? Bukan siapa-siapa... Kami cuma pemulung cerpen mingguan yang belum kapok melintasi tujuh tahun...

Saat itu, kami merasa juri paling jago menentukan siapa kira-kira yang akan masuk ke dalam daftar tahun silam. Lalu kami mendengar tahun itu tidak ada acara yang sudah secara rutin digelar Kompas. Kami rasa tidak sendiri. Mungkin banyak orang yang berusaha meracik-racik mana cerpen yang pantas masuk, mana yang sudah diyakini akan kena stempel cerpen khas Kompas, mana yang agak nyeleweng tapi masih tetap aroma cerpen Kompas. Toh, setahun setelah itu akhirnya Kompas mengamininya, dan menghadirkan juri tamu, sebagai bentuk lain dari cerpen Kompas adalah milik banyak orang... "Gue jadi Efix, lu jadi Ninuk Pambudy, ya..." begitu canda kami beberapa bulan silam sebelum keluar cerpen pemenang dan jajaran cerpen lainnya yang masuk ke dalam buku Cerpen KOMPAS Pilihan 2005-2006
Beragam Komentar tentang Ripin, Cerpen KOMPAS Pilihan 2005-2006


Tampilkan Semua !

Sebilah Cahaya
Post: 05/26/2003 Disimak: 215 kali
Cerpen: Toto Sugiharto, R
Sumber: Padang Ekspres, Edisi 05/25/2003
"Aku akan bunuh diri di sebuah hotel. Pada suatu hari di saat senja." Lelaki bertubuh jangkung dan perawakan kurus dengan rambut kusut itu gelisah. Dibacanya pesan itu sekali lagi. Seorang perempuan, kekasihnya, mengirimkan pesan itu melalui SMS. Senja hampir menjelang. Entah senja yang ke berapa sudah. Lelaki itu membuka-buka kembali beberapa SMS yang pernah dikirim kekasihnya: "Ingat senja, ingat dirimu. Aku masih setia. Kelak, kenanglah aku dari sebuah berita."Sebelumnya, ada juga SMS yang ditulis agak jenaka: "Kalau ada sumur di ladang, bolehlah aku menumpang mandi. Kalau ada peluang, bolehlah aku bunuh diri."Jenaka atau serius, pesan-pesan itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Bahkan, setiap handphone-nya menerima SMS, membuat detak jantungnya bertambah kencang. Meski tidak sedikit isi SMS biasa saja, dari teman-temannya yang menanyakan kabar atau kegiatannya terakhir. Lelaki itu sebenarnya sudah mencoba tidak terpancing. Karenanya, ia sengaja tidak pernah membalas SMS dari kekasihnya itu. Meski begitu, diam-diam ia selalu memantau kemungkinan-kemungkinan. Ia selalu menghubungi resepsionis hotel, kalau-kalau ada seorang perempuan yang check in: tubuhnya kurus, lengan dan kakinya panjang dan lehernya jenjang; wajahnya bulat telur, kulit hitam manis. Nama di KTP Inama, umur antara 25 tahun. Ia sudah menghubungi beberapa resepsionis hotel di kota itu, tapi tidak pernah tercatat perempuan dengan ciri-ciri dan nama Inama. Ia gagal mengetahui umur pasti perempuan itu. Sebelumnya ia menghargai keinginan dan prinsip kekasihnya itu untuk merahasiakan usianya. Ia tidak kesulitan untuk mencari kepastian dengan melokalisasi momen atau peristiwa sehari-hari di kota kecil itu. Sebab, tidak banyak hotel di kota itu. Sampai-sampai ia hapal di luar kepala nama hotel berikut nomor teleponnya, juga nama-nama resepsionisnya. Sebuah SMS masuk lagi, dari perempuan itu: "Aku pernah punya cita-cita ingin mati muda, di sebuah hotel di saat senja." Entah berapa bulan yang lalu, ia mengenal perempuan itu. Selanjutnya, mereka terlibat dalam affair. Perempuan itu sebenarnya istri gelap seorang pejabat di kota kecil itu. Mereka bertemu dalam sebuah forum diskusi bertajuk "Kekerasan terhadap Perempuan, Problem Sosial dan Alternatif Solusinya". Dalam forum itu ia menjadi moderator. Sedangkan perempuan itu salah seorang peserta yang tampil bertanya. Pertanyaannya juga lumayan bagus. Dan, belakangan ia memaklumi bahwa pertanyaan itu juga sebagai problem pribadi perempuan itu. Kemudian seusai diskusi perempuan itu mengajak berkenalan, menanyakan nomor handphone-nya. Selanjutnya, perempuan itu lebih sering mengajak bertemu empat mata. Sampai akhirnya dia membuka semua persoalan, konflik batinnya sebagai istri gelap seorang pejabat. Dari hasil kumpul kebo-nya dengan sang pejabat, perempuan itu sudah memberi seorang anak. Laki-laki berusia lima tahun dengan postur tubuh segagah ayahnya. Terutama bentuk kepala yang berbakat botak dan mata sipitnya yang serupa dengan pejabat itu. Secara materi tidak ada yang kurang pada dirinya. Malah kadang-kadang lelaki itu ditraktir di restoran di luar kota, diajak jalan-jalan dan bermalam di hotel. Perempuan itu mengaku cocok berteman dengan lelaki yang dinilainya sangat lembut dan romantis serta sensitif gender. Dia memiliki kenangan manis. Katanya, kenangan paling indah adalah ketika lelaki itu bersedia diajak kencan di sebuah hotel di saat senja. Itulah kencan pertama mereka. Lelaki itu pernah menanyakan alasan kekasihnya menilai kencan itu sebagai yang paling indah. Kata perempuan itu, karena lelaki itu menilai dunia yang dijalani perempuan itu adalah dunia yang aneh. Kemudian sebaliknya, perempuan itu menyahut, "bukankah dunia memang tempat yang aneh?" Tempat bertemunya orang-orang yang memiliki hubungan yang aneh, seperti dia dengan pejabat, seperti juga dia dengan lelaki itu. Sebuah pesan masuk lagi: Ada orang mau bunuh diri tapi takut mati. Aku tidak. Bukan itu soalnya. Tinggal tunggu waktu saja. Besok, lusa, atau kepan-kapan. He-he-he. Lelaki itu mulai terpancing. Ia ingin membalas, tapi ia takut. Ia tidak suka berurusan dengan polisi. Belum kalau pejabat itu menangkap basah dan tahu kalau ia masih punya affair dengan istri gelapnya itu. Sebab, pejabat itu sudah mengendus perselingkuhan mereka. Karena itu, sejak handphone-nya dibombardir SMS yang ngeres-ngeres seperti itu, otaknya juga jadi kacau. Sebab, cepat atau lambat ia pasti juga akan berurusan dengan polisi. "Kapan-kapan kita bertemu lagi. Kapan-kapan kita bersama lagi. Sayang, cinta kita tak sehidup semati. Sayang, kupilih bunuh diri." Perempuan itu sakit hati sebab hubungan mereka sengaja diputus sepihak oleh lelaki itu. Katanya, dia tidak mencintai pejabat itu. Katanya lagi, tak ada guna hidup tanpa lelaki yang dicintai murni dari hatinya. Meski begitu dalam cintanya, lelaki itu harus berani memutus hubungan dengannya. Sebab, pejabat itu mengintai kelakuan mereka. Kemudian oleh tukang pukulnya, ia dihajar sampai sekarat dan disodori segepok uang sebagai biaya pengobatan dan semacam pesangon. Kata tukang pukul itu, mereka hanya menyampaikan pesan dari bosnya: ia harus memutus hubungan dan mengakhiri affair dengan perempuan itu. Tapi, ia diminta tidak mengatakannya kepada istri gelap pejabat itu. Pilihan paling pelik. Dan, ia memutuskan untuk bungkam. Lelaki itu sedang berpikir keras, di mana sebenarnya kekasihnya akan melaksanakan rencananya. Ia berpikir sambil membuka-buka lembaran buku telepon. Tiba-tiba tangannya berhenti pada lembaran iklan hotel. Ia mendadak teringat pernah mencari-cari hotel untuk bermalam dengan kekasihnya itu. Ya, sebuah hotel di luar kota. Artinya, kekasihnya mungkin akan bunuh diri di hotel itu. Di kamar mereka dulu. Lelaki itu meloncat dari kursinya. Ia bergegas mencari bus kota ke stasiun dan membeli tiket kereta. Masih cukup waktu untuk mengejar senja. Kereta melaju melebihi detak waktu. Stasiun tujuan sudah terlihat dari jendela. Di hamparan sawah terlihat matahari senja separuh di cakrawala. Bola matahari yang terlihat separuh itu mengibarkan bara jingga, melapisi langit menjadi semburat jingga dengan pantulan di tepi-tepi gumpalan awan-gemawan bersepuh warna emas. Begitulah bila senja tiba. Segalanya serba keemasan, semuanya bersepuh kuning kemerah-merahan, merah kekuning-kuningan Hotel itu tidak jauh dari stasiun. Ia meloncat dari gerbong dan berlari-lari kecil menuju hotel itu, seperti seseorang yang ketakutan kehabisan kamar hotel. Tapi, orang-orang sudah berkerumun di sekitar hotel. "Ada apa, Mas?" tanyanya pada orang-orang yang berkerumun. "Orang bunuh diri. Minum obat nyamuk.""Perempuan?" "Perempuan."Kulit muka lelaki itu memucat. Di sekitarnya orang-orang meributkan insiden itu. "Umurnya 29. Pasang aja.""Bukannya 518. Nomer kamarnya. Pasang aja 518", sahut yang lain lebih keras. Mendadak kerumunan itu tersibak. Orang-orang memberi jalan kepada petugas PMI. Sepotong tubuh tergolek di atas tandu. Tubuh itu dibungkus plastik besar dan hendak dimasukkan ke dalam ambulan. Seorang lelaki kerempeng seperti dirinya, mungkin wartawan, mencegat petugas PMI yang menandu mayat itu. Dengan tangan sebelah, wartawan itu memberi aba-aba agar salah seorang dari mereka membuka plastik pembungkus mayat itu. Maka, detak jantungnya pun semakin kencang. Plastik sudah disibak, muncul raut muka berparas manis, dengan bibir tipis yang terkatup rapat serta kelopak mata yang sedikit terbuka: seperti wajah kekasihnya. Wajah itu dipotret tiga kali. Sementara wajah orang-orang yang menonton terlihat tegang dengan mulut ternganga. Tapi, tiba-tiba salah seorang petugas PMI terbahak-bahak. "Emang enak dikibulin?", ujarnya kemudian. Wartawan itu pun mengumpat. "Diancuk! Cuma boneka, to?" Orang-orang yang terlihat tegang dengan mulut ternganga itu pun serentak ikut terbahak-bahak. "Tapi, gak opo-opo. Ini juga berita", tambah wartawan itu. Tiba-tiba lelaki itu teringat pada handphone-nya. Ia membuka SMS yang masuk. Dan, memang ada sebuah pesan terbaru. Sebuah SMS dari perempuan itu, dikirim 30 menit yang lalu: "Sorry, Bung. Ini yang namanya suspense, kan? Sekarang aku serius. Live show yang sebenarnya di hotel sebelah. Selamat menyaksikan. Selamat tinggal. Kutunggu dikau di Sana bersama 1000 bidadari". Ya, Tuhan! Dia memang gila! Lelaki jangkung itu mengutuk dalam hati. Kemudian ia bergegas membuntuti petugas PMI dan wartawan. Mereka bergegas ke sebuah tempat yang terletak sekitar 50 meter dari hotel itu. Di sana, di hotel sebelah, terlihat kerumunan massa lebih banyak lagi. Tapi, ia hanya bisa memandangi dari tempat yang jauh. Ia tidak berani mendekat. Tapi, sekarang semuanya sudah jelas baginya. Dari suara gemeremang orang-orang, ia sudah mengetahui semuanya. Perempuan itu, kekasihnya, nekad meloncat dari lantai lima hotel itu. Ia terlihat terjun bebas dengan posisi kepala di bawah. Kekasihnya itu memakai topeng Dewi Sekartaji dengan selendang batik warna merah hati bermotif bunga melati. Topeng itu pecah berserakan terpercik darah merah di mana-mana. Lelaki itu hanya berani memandangi batang kaki yang berjajar seperti pagar dari ratusan orang yang mengerumuni mayat itu. Lelaki itu sempat melihat sebilah cahaya matahari menerobos sebuah celah bagian dari balkon hotel itu. Cahaya matahari senja itu menghunjam bagian tepi pot bonsai di depan hotel itu. Selanjutnya, sesekali bilahan cahaya itu terpotong-potong oleh sosok petugas PMI yang memondong tandu berisi mayat kekasihnya, diikuti kerumunan orang di belakangnya. Mereka membawanya ke dalam ambulans dan mendorong ke dalamnya melalui pintu belakang. Ia tidak suka berurusan dengan polisi, tapi ia menyadari, cepat atau lambat ia akan ditelepon polisi. Maka, ia mencari buku telepon dan menghubungi kantor polisi terdekat melalui wartel stasiun. Ia berencana akan mengaku sebagai pejabat itu. Terdengar sebuah sapaan dari seberang. Tapi, ia tidak membalasnya setelah terlihat olehnya pejabat itu sedang berbicara dengan polisi. Kembali jantungnya berdegup keras. Jadi, kekasihnya juga selalu mengirim SMS yang sama kepada pejabat itu? Atau, pejabat itu memang dipanggil polisi? Ia menunggu kalau-kalau handphone-nya bernyanyi dari nomor kekasihnya. Ia melihat polisi yang berbicara dengan pejabat itu mendatangi petugas PMI dan menunjuk-nunjuk sebuah arah, di sebelah hotel itu. Sebuah SMS masuk lagi, dari nomor kekasihnya: "Mas, lupakan semua SMS-ku. Aku cuma main2. Aku kangen. Jam 22.00 kutunggu di bioskop." Lelaki itu menyeringai. Ia siap membalas dengan sebuah kata "gombal", tapi ia mengurungkan niatnya. Ia mengirimkan sebuah balasan tanpa teks. ***

Silakan Cetak Situsnya! Cetak

Frase
Semua Kata
Sebarang kata

Dibuka dalam 0.000429 detik.

© 2002-2005. Sriti.com

Kontak: info@sriti.com

Tidak ada komentar: