Ngaji

Ngaji
Zainal

Minggu, 11 Januari 2009

PANWAS PILEG KEDIRI BREDEL GAMBAR

Panwas Pileg Kediri Tertibkan Baliho Partai
Kediri-Panitia Pengawas Pemilihan Umum [Panwaslu] Legislatif, Minggu kemarin, mulai memberishkan ratusan alat peraga kampanye calon lehislatif dan parpol berupa spanduk, poster serta baliho yang di pasang tana ijin di sepanjang jalan dan lokasi stratgis lainnya.

Namun, penertiban alat peraga kampanye itu terkesan pilih-pilih.Buktinya, beberapa spanduk besar dan poster caleg dari tokoh brpengaruh, serta partai politik [parpol] berkekuatan masa yang dipasang tanpa stempel bukti ijin pembayaran pajak, dibiarkan berdiri tegap di pinggir jalan.Menanggapi tindakan pilih kasih tersebut, ketua Panwas Pemilihan Legislatif (Pileg) kota Kediri Dijan Novita Saka mengatakan, spanduk yang tidak di bredel tersebut tidak menyalahi aturan walikota, serta tidak melanggar UU Pemilu."Alat peraga yang tidak ditertibkan karena pemasangannya telah sesuai peraturan dan tidak mengganggu nilai estetika keindangan Kota Kediri," ujar Dijan.Dijan mencontohkan, seperti pemasangan yang dilakukan dengan tiang sendiri dan pemasangan yang tidak menempel pada pohon-pohon di pinggir jalan, depan RS Baptis Kediri. Selain itu, imbuh Dian, ada beberapa parpol telah meminta ijin kepada Panwaslu, sebelum memasang atributnya. Di antaranya, atribut partai PPDI, PPD, PNBK, Pelopor, Republikan, dan PKPB. "Dua hari sebelum pemasangan, mereka izin ke Panwaslu," tandas mantan anggota Panwas Pemilihan Wakilota Kediri itu.Sementara itu, ketika ditanya tentang aturan pembredelan sejumlah alat peraga kampanye itu, Dian menjelaskan, pemasangan itu tak boleh menyalahi Peraturan Walikota [Pilwali] Kediri No 37, 38 tahun 2008. "Sebelumnya kami telah memberikan toleransi kepada parpol dan caleg yang bersangkutan, namun tidak diindahkan. Akhirnya kita lakukan pencopotan paksa," katanya.Dalam kegiatan penertiban alat peraga kampanye tersebut, Panwaslu Pileg tidak menyertakan peran dari Satpol PP Kediri dan Polresta Kediri. Dimulai dari Kantor Panwaslu Jl Mahoni, Mojoroto, Kediri, puluhan anggota Panwas bergerak ke barat.Mereka membredel paksa atribut kampanye yang menyalahi aturan tersebut, di antaranya partai besar, seperti Partai Golkar, Demokrat, PDI Perjuangan, Gerindra, PKS, dan PDS yang terpampang wajah calegnya untuk DPRD Kota Kediri hingga DPR RI.Kegiatan itu terus dilakukan menuju kawasan RS. Baptis, Alun-alun Kota Kediri dan sejumlah jalan protokol yang kedapatan terpampang poster, spanduk, serta baliho calon anggota DPRD yang mengganggu kelestarian lingkungan dan tanpa memiliki ijin. "Ratusan alat peraga kampanye tersebut kemudian kami sita, dan hasil dari penindakan itu kita laporkan ke Komisi Pemilihan Umum [KPU]. Namun, sekali lagi belum ada aturan tentang saksi dari pelanggaran tersebut," ujar Dijan (nal)
=====Balita Kediri Terserang HedrocepalusKediri-Muhammad Adam Ghazali, bayi di bawah usia lima tahun [balita] berusia 4,5 anak pasangan Taufik Hidayat [24] dengan Erni Indarwati [18] warga Dusun Grompol, Desa Ngebrak, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri, terserangan penyakit Hedrocepalus yakni bagian kepala membesar karena serangan virus.

Kepala Adam, balita yang lahir secara prematur itu terus membesar, atau dalam istilah medisnya mengidap penyakit hydrocepalus. Membesarnya volume kepala Adam, menurut Aisyah [45], neneknya mulai terlihat sejak usia 2 bulan. Adam yang sebelumnya menderita infeksi pada mata kirinya, mulai nampak gejala-gejala pembengkakan di kepala."Usai opname selama 23 hari di ICU Rumah Sakit Bhayangkara, Kediri, kepala Adam mulai bengkak. Disusul dengan keluarnya cairan melalui lubang hidung dan matanya. Saat itu kami khawatir, lantas kembali membawanya ke bidan dan Puskesmas setempat untuk meminta suntik vaksinasi, namun tidak berhasil," ujar Aisyah
Adam yang lahir di usia kandungan Erni 8 bulan itu, kemudian dibawa ke Rumah Sakit Daerah Umum [RSUD] Pelem, Pare. Di poli anak, penyakit Adam mulai didiagnosa. "Pihak medis mengatakan bahwa anak saya mengidap hydrocepalus dan harus dirujuk ke RSUD Gambiran, Kediri," ujar Erni..Sebagaimana diketahui, dengan kondisi yang saat ini dialami Adam, bocah malang yang lahir pada 26 Agustus lalu melalui bantuan bidan Susi itu, kini membuat bola matanya tertutup, pendengarannya pun terganggu. Bahkan, ungkap Aisyah, sambil sesenggukan, selama dua bulan terakhir cucunya tidak pernah menangis.Kini berat badan Adam kurang lebih 6,5 kilogram. Apakah naiknya berat badan Adam karena membengkaknya kepala atau perkembangan tubuhnya, keluarga belum mengetahui. Namun, kini mereka sangat khawatir dengan kondisi kepala Adam yang semakin membesar volume."Hanya diam saja, bahkan saat kami cubit pun tetap diam, dan ini yang membuat hati kami seakan tersayat-sayat. Jika ingat penderitaan Adam, kami hanya mampu mengeluarkan air mata," keluh Aisyah .
Saat ditanya tentang upaya keluarga untuk dapat menyembuhkan kelainan pada kepala Adam yang diakibatkan penumpukan cairan serebrospinal di otaknya, Aisyah mengaku sudah mencoba berbagai cara.Bahkan, diakui Aisyah, selain dari pengobatan medis, yakni rumah sakit, puskesmas, dan bidan, mereka juga telah membawa Adam ke pengobatan alternatif. Tentu saja, dari segala upaya yang telah ditempuh itu, keluarga telah mengeluarkan biaya yang cukup tinggi."Kami sudah kebingungan, harus ke mana lagi mencari biaya. Pengalaman dari tetangga desa yang anaknya juga mengidap hedrocepalus, harus menyediakan biaya sekitar Rp 25 juta. Darimana kami memperoleh biaya sebesar itu," keluh Aisyah...Sampai saat ini, keluarga korban telah mengeluarkan biaya sekitar Rp 15 juta, untuk perawatan. Aisyah, sempat berpikir menjual bangunan rumahnya. Namun, lagi-lagi jumlahnya tidak mencukupi untuk biaya pengobatan Adam, karena rumha tinggalnya hanya ditawar Rp 5 juta rupiah.Keluarga Adam berharap ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten Kediri, khususnya kepada Bupati Kediri Sutrisno dan iNy Hariyati Sutrisno, agar memperhatikan nasib mereka, demi kesembuhan Adam.Secara terpisah, Bidan Desa Ngebrak, Susi, saat dikonfirmasi melalui ponselnya membenarkan penyakit hydrocepalus yang diidap Adam. Susi telah menyarankan kepada keluarga agar pasien dibawa ke RSUD Pelem, Pare agar cepat ditangani secara serius.Pihaknya juga telah memberikan saran dalam hal pengajuan kartu jaminan kesehatan daerah [Jamkesda], untuk membantu meringankan biaya pengobatan di rumah sakit.Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri Adi Laksono belum dapat dikonfirmasi. Saat dihubungi berkali-kali melalui ponselnya, tak mendapat jawaban. Hal yang sama juga di lakukan kabag Humas pemkab Kediri Sigit raharjo, Saat di hubungi lewat ponselnya, Sigit tidak menjawab. (nal)

Tidak ada komentar: