Arus Mudik Dengan KA Meninggkat
Kediri,-Arus penumpang Lebaran 1430 H yang mempergunakan jasa transportasi kereta api (KA), Minggu (13/9/2009), tepatnya H-8 awal mulai terjadi kenaikan di Daerah Operasi (Daop) VII Madiun.
Ini disampaikan oleh Direktur Komersial PT KAI Mimbo, ditemui di Stasiun KA Kota Kediri dalam inspeksi mendadak (sidak) kesiapan jasa KA menjelang Hari Raya Idul Fitri ke sejumlah stasiun Daop VII Madiun.
"H-8 ini mulai terjadi kenaikan penumpang sekitar 8% dan kami pastikan sampai H-3 mendatang. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ada peningkatan sebesar 30% lebih," ujar Mimbo, yang datang ke Stasiun KA Kota Kediri bersama rombongan, dengan menaiki Kereta Rail One KDI-82.203, Minggu.
Ditanya tentang persiapan PT KAI, Mimbo mengungkapkan, ada tambahan 15 rangkaian. Selain itu, jika diperlukan dipersiapkan komunitas kereta barang. Segala persiapan itu lebih difokuskan pada jalur timur, di antaranya, Jakarta, Solo dan Surabaya.
Disinggung soal toleransi kenaikan penumpang KA jelang Lebaran itu, Mimbo menjawab, untuk KA ekonomi sekitar 50%, untuk kelas eksekutif tidak ada, sedangkan KA bisnis toleransinya sebesar 20%. "Perkiraan kami untuk arus balik pemudik mulai terjadi kenaikan pada H+4, dengan besaran sekitar 26% dibanding tahun sebelumnya," kata Mimbo.
Kenapa akan ada kenaikan arus balik, Mimbo menjelaskan, adanya perkiraan pemudik dari Jawa Tengah yang sebelumnya dengan bus gratis. "Kami yakin bahwa pemudik se-Jawa Tengah yang sebelumnya dilayani bus gratis, baliknya tidak semua dengan bus, melainkan tetap dengan jasa kereta api," tutur Mimbo.
Untuk persiapan, Mimbo menerangkan, jika dalam sidaknya memeriksa kesiapan jalur posko Lebaran. Data yang diperoleh menyebutkan, Mimbo dan rombongan sebelumnya melakukan pengecekan di Stasiun Madiun dan Kertosono, di Stasiun KA Kota Kediri juga memeriksa posko Lebaran selama kurang lebih 5 menit, setelah itu meneruskan perjalanan ke Tulungagung. (nal)
================================
Residivis Dihajar Masa
Kediri,-Imam Rohkin (25), pemuda asal Desa Turus, Kecamatan Gampengrejo Kabupaten Kediri menjadi bulan-bulanan massa. Tubuh residivis kasus pencurian yang pernah ditembak polisi itu babak belur usai digebuki puluhan warga karena ulahnya memukuli pemuda desa.
Tidak hanya itu saja, menurut keterangan Kapolsek Gampengrejo AKP Mahyudi, sepeda motor milik Rohkin juga tidak luput dari kemarahan warga. Yamaha Force bernopol AG 5821 AC itu dirusak oleh masyarakat yang sudah jengkel dengan perbuatan Rohkin.
"Kami menerima laporan dari masyarakat Desa Turus jika terjadi pengeroyokan. Namun, saat kita tiba di lokasi, Rohkin sudah dalam keadaan tak berdaya, kendaraanya juga sudah rusak pada bagian totok (kepala) akibat dipukuli massa," terang AKP Mahyudi dikonfirmasi Minggu (13/9/2009).
Lebih lanjut dijelaskan mantan Kapolsek Wates, Kabupaten Kediri ini, jika kejadian itu bermula dari Rohkin dengan mengendarai sepeda motornya berhenti di sebuah pos kamping desa setempat. Rohkin menemui Gace (21), pemuda setempat dalam kondisi mabuk berat.
Dalam keadaan dipengaruhi alkohol, Rohkin memaksa Gace untuk membeli minuman keras (miras) lagi. Namun, karena Gace menolak, Rohkin pun naik pitam, lalu memukul kepala Gace. Aksi main tangan itu rupanya diketahui warga. Tak ayal, warga dalam jumlah banyak pun mendatangi dua pemuda di pos kamling itu.
Warga yang telah mengetahui track record dari Rohkin, tidak mau banyak bicara. Mereka mengeroyok Rohkin sampai babak belur. Belum puas, warga juga merusak sepeda motor Rohkin, sebelum akhirnya menggelandang Rohkin ke kantor polisi setempat.
Sementara itu, AKP Mahyudi berjanji akan segera memeriksa sejumlah warga yang terlibat aksi pengeroyokan dan pengerusakan terhadap sepeda motor Rohkin. "Kami masih menunggu kondisi kesehatan Rohkin, untuk kita mintai keterangan. Nantinya, kami juga akan memeriksa sejumlah warga yyang terlibat," pungkas AKP Mahyudi (nal)
=======
Harinto Tolak Provokasi Pergantian Pelatih Persik
Kediri,-Salah satu pemain senior Persik Kediri, Harianto membahtah jika dirinya menjadi penyebab utama Edy Paryono pergi. Menurutnya, ia tidak pernah menjadi provokator kepergian Edy.
Nama Edy Paryono memang pernah menjadi pelatih Persik, namun itu hanya berlaku untuk dua bulan. Pasalnya setelah itu mantan pelatih PSIS Semarang ini lebih memilih untuk mengundurkan diri. Menurur Edy, alasan utama pengunduruan dirinya adalah masalah gaji yang dua bulan belum dibayarkan.
Selain itu muncul nama Harianto yang diklaim telah memprovokasi pemain Persik untuk mogok latihan. Kabar mengatakan, Harianto sengaja mengompori pemain Persik untuk tidak sepenuh hati mengikuti latihan. Namun mantan kapten tim Macan Putih ini buru-buru membantah kabar miring itu.
"Saya sama sekali tidak pernah berbuat seperti yang dituduhkan. Itu semua fitnah. Silahkan Anda tanya ke pemain lain, jika ada di antara mereka yang pernah saya larang berlatih," ucapnya, Minggu (13/9/2009).
Dengan jujur ia mengatakan, sempat kecewa dengan metoda kepelatihan Edy Paryono. Satu hal yang ia tidak sukai adalah masalah kedisiplinan. Sedangkan materi latihan yang lain menurutnya, sama sekali tidak ada masalah. "Tapi saya tidak pernah mengajak pemain lain untuk berhenti latihan. Semua ini saya jalani sendiri," pungkas Harianto. (nal)
Ngaji
Zainal
Minggu, 13 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar