Polresta kembangkan Penyidikan Kasus Tabrakan Bus dan Kereta
Penjaga Palang Pintu Akui Terhalang Kabut
Kediri,-Proses penyelidikan penyebab kecelakaan maut antara KA Rapih Dhoho dan Bus Harapan Jaya berlanjut, petugas gabungan dari Polresta, Labfor Polda Jatim dan PT KAI, memeriksa beberapa saksi. Tiga pegawai PT Kereta Api Indonesia (KAI) diperiksa Satreskrim Polresta Kediri. Mereka adalah Penanggung Jawab Perjalanan Kereta Api (PJPKA), Kepala Distrik, dan Mandor Maryono, yang tugasnya saat itu digantikan Supinto.
Khusus untuk Supinto, pemeriksaan dilakukan lebih intensif karena Supinto dinilai yang paling bertanggungjawab dalam kecelakaan tersebut. Dalam pemeriksaan petugas Lapfor Polda Jatim, Supinto mengaku, sebelum kejadian dirinya sempat keluar dari pos penjagaan tetapi tidak melihat lampu tanda keberangkatan kereta api. Pasalnya, saat itu hujan lebat dan pandangan Supinto terhalang kabut. “Pandangan kami terhalang kabut”, ujar Supinto.
Menurut Supinto, biasanya lampu tanda keberangkatan kereta api bisa terlihat, tetapi waktu itu terhalang kabut tebal. Supinto mengaku sempat memencet tombol penutup palang pintu. Tetapi dalam waktu bersamaan, kereta api dan bus terus melaju sehingga kecelakaan tidak bisa dihindari. Supinto hanya bisa terpaku dan pasrah dengan kejadian tersebut.
Untuk memastikan penyebab kecelakaan maut antara kereta api (KA) Rapih Dhoho dengan Bus Harapan Jaya yang telah menewaskan tujuh korban jiwa dan 25 korban luka-luka, Polresta Kediri terus melakukan serangkaian penyelidikan.
"Kita masih terus melakukan pemeriksaan, termasuk ketiga pegawai PT KAI. Upaya itu, kita lakukan untuk mengetahui secara pasti kecelakaan tersebut, dan penyebabnya," kata Kapolresta Kediri AKBP Dedy Prasetya, Rabu (25/2/2009) siang.
Ketika disinggung tentang adanya tersangka baru dalam kasus tersebut, AKBP Dedy mengaku, besar kemungkinannya. "Bisa jadi ada tersangka baru, oleh karena itu kita masih mendalaminya," tandas Dedy, yang ditemui depan ruangannya.
Lebih lanjut dipaparkan Dedy, kesimpulan sementara yang diperoleh dari hasil penyelidikan adalah kedua kendaraan tersebut saling beradu. "Antara bus dan kereta saling beradu," tegas Dedy.
Supinto, penjaga palang pintu kereta api yang ditetapkan sebagai tersangka, mengaku karena hujan deras dan kabut tebal dirinya terlambat menutup palang pintu.Untuk membuktikan kesimpulan tersebut, pihaknya perlu memeriksa body bus dan meminta keterangan dari orang sipil yang ada di pos, saat kejadian berlangsung.
Sementara itu, puluhan korban luka-luka dalam kecelakaan maut itu masih menjalani perawatan di tiga rumah sakit, yakni RSUD Gambiran, RS Baptis, dan RS Bhayangkara, Kediri. (nal)
Polisi Narkoba Di Tangkap
Kediri,-Briptu Amin, anggota Satuan Narkoba Polres Kediri, beralamat di Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri ditangkap petugas di rumahnya.
setelah terbukti sebagai bandar narkoba jenis pil dobel L.
Petugas yang menggeledah rumah pelaku berhasil menyita barang bukti sebanyak 8.000 pil dobel L yang disimpan di dalam sebuah botol.
"Benar, kami telah mengamankan Amin hasil pengembangan tersangka narkoba yang ditangkap Polsekta Pesantren, Kediri,"ujar Kapolres Kediri AKBP Benyamin MM, ditemui ruangannya, Rabu (25/2/2009) siang.
Kini, imbuh Benyamin, Briptu Amin harus mendekam di sel tahanan Polres Kediri. "Kami masih mengembangkan kasus ini, dengan terus memeriksa yang bersangkutan,"tandas Benyamin
Akibat perbuatannya, Briptu Amin, salah satu anggota Satuan Narkoba Polres Kediri yang terbukti menjadi bandar narkoba terancam "dicopot" dari jabatannya. "Kita serahkan kepada pidana umum. Kita harus tegas dalam mendidik anggota," tegas Kapolres Kediri, AKBP Benyamim MM, Rabu (25/2/2009).
Lebih lanjut dikatakan Benyamin, setelah menjalani pidana umum, nanti terserah sanksi apa yang akan dijatuhkan kepada yang bersangkutan.
Benyamin mengaku, dirinya mencium gelagat tidak baik dari Briptu Amin sejak empat bulan yang lalu. Namun pihaknya masih menunggu waktu yang tepat, untuk melakukan penangkapan.
Bahkan, tegas Benyamin, dari hasil pemeriksaan, dalam melakukan traksaksi secara tertutup tersebut, Amin selalu menggunakan perantara. "Transaksinya dengan menggunakan pion-pion yang bergerak, dan sangat rapi," paparnya.
Sementara itu, saat ditanya apakah barang haram yang dijual Amin adalah barang bukti, Benyamin belum dapat memberikan keterangan. Pihaknya hanya mengaku, bahwa kini masih menyelidikinya.
Saat disinggung, motif dari perbuatan yang dilakukan oleh Amin, Benyamin mengaku karena kondisi ekonomi. "Motifnya kita belum tahu pasti, namun ada kemungkinan karena desakan ekonomi, karena saat ini sang istri tengah hamil," pungkasnya. (nal)
======
Bearkas Korupsi RS Kusta Dilimpahkan Ke Kejaksaan
Kediri,-Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Kasus pidana korupsi pengadaan alat-alat kesehatan dan bantuan medis Rumah Sakit (RS) Panti Kusta Kediri senilai Rp 35 juta, akhirnya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Kediri.
Kasus tersebut. telah menyeret 2 orang tersangka yakni, Mantan Direktur Utama RS Kusta Bambang Ermanadji, Bendaharanya Drs Djembor Sugeng Waluyo itu, siap untuk diperiksa pihak penyidik umum. "Kita berharap berkas yang telah dikirim tidak ada kekuranga, sehingga dapat segera di persidangkan," ujar Kapolresta Kediri AKBP Drs Dedy Prasetya, diakhir jabatannya, Rabu (25/2/2009).
Lantas bagaimana dengan status para rekanan? Dedy menjawab, sejauh ini mereka hanya sebatas saksi, namun tidak menutup kemungkinan jika akhirnya mereka juga ditetapkan sebagai tersangka.
"Yang kita tangani saat ini masih satu item, yaitu hasil audit BPKP terhadap APBD tahun 2007 yakni, anggaran peralatan medis, dan pengadaan obat-obatan. Jika, pemeriksaan dua item telah turun, ada kemungkinan mereka ditetapkan sebagai tersangka," tegas Dedy.
Sekader diketahui, hasil audit dari Badan Pengawasan dan Keuangan Pembangunan (BPKP) Jawa Timur, ditemukan indikasi penyelewengan anggaran pengadaan obat-obatan dan peralatan medis RS Kusta yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2007.
Hasil audit tersebut diserahkan ke Polresta Kediri untuk dilakukan pengembangan. Berdasarkan keterangan dari saksi-saksi yang telah dimintai keterangan, penyimpangan tersebut dilakukan dengan jalan membuat dokumen fiktif. Yakni, RS Kusta berkerja sama dengan sebuah apotek di wilayah Kediri merekayasa laporan keuangan.
"RS Kusta memperoleh anggaran dari APBD untuk kegiatan pengadaan obat-obatan dan peralatan medis sebesar Rp 80 juta. Padahal, dari hasil pemeriksaan diketahui, hanya menghabiskan dana sekitar Rp 34 juta. Jadi, sisanya ini sekitar Rp 35 juta yang diduga diselewengkan. Namun, ketika kita tanya, alasannya untuk ini, untuk itu" pungkasnya. (nal).
=====
Warga Banjir Ketiban Rejeki Kayu Bakar
Kediri - Bencana banjir lahan dingin yang telah melumpuhkan kegiatan sosial dan ekonomi, ternyata juga membawa berkah bagi masyarakat. Ratusan warga yang berada di tepian sungai aliran lahar Gunung Kelud mengumpulkan kayu dan batu yang berserakan, untuk selanjutnya dijual, sebagai ganti pekerjaan mereka yang mandek selama ini.
Kegiatan itu tidak hanya dilakukan oleh para kaum pria, namun juga para ibu rumah tangga dan anak-anak. "Lumayan, satu rit kayu bakar seharga Rp 50 ribu, sama dengan satu kubik batu," kata Rukini (34), warga Desa/Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, Rabu (25/2/2009).
Rukini bersama para ibu rumah tangga lainnya mengumpulkan batang kayu di Sungai Sirinjing. Lebih lanjut dikatakan Rukini, dalam sehari ia dapat mengumpulkan dan menaikkan kayu dari sungai hingga 3 rit.
"Dalam sehari kita dapat 3 rit, karena mudah. Kita tingga, mengumpulkan, lalu menaikkan dari sungai. Sedikit kita sisakan untuk memasak, dan lainnya kita jual sebagai kayu bakar," paparnya.
Hal senada dikatakan Nyono (39), warga Puncu. "Kalau kita mengumpulan batu. Kemudian, ada pembeli yang sudah datang, tinggal kita naikkan ke atas truk, lalu menerima hasil,"paparnya.
Nyono menambahkan, jika hari-hari biasa warga kesulitan memperoleh batu sungai, dan pencarian dilakukan dengan cara menggali. "Pascabanjir seperti ini, kita tinggal mengumpulkan," katanya.
Imbuh Nyono, banjir lahar dingin kali ini terbesar kedua setelah banjir tahun 1990 silam. "Ini merupakan banjir terbesar kedua, warga sempat panik, saat air bercampur lumpur yang datang dalam volume dan arus yang deras," pungkasnya
Namuan di bagian lain, sedikitnya 50 KK pengungsi banjir lahar dingin Gunung Kelud menanti bantuan peralatan berat dari pemkab Kediri. Hal itu diperlukan untuk membantu membersihkan tempat pemukiman warga dari genangan air bercampur lumpur.
Saat ini, mereka tengah berusaha membersihkan lumpur dengan menggunakan alat seadanya. Satu alat berat yang didatangkan, tidak banyak membantu. Karena hanya membersihkan jalur utama dari Kecamatan Puncu menuju Kecamatan Pare.
Warga setempat, Agus Budiono berharap, pemkab Kediri segera mengirimkan bantuan, baik sembako mapun peralatan untuk membersihkan rumah-rumah warga. Sebab, diperkirakan hal ini baru akan berakhir sepekan lagi.
"Kami belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah. Padahal kami sangat memerlukannya, baik makanan ataupun peralatan untuk membersihkan rumah," kata Agus Rabu (25/2/2009).
Ketua RT 2, RW 1 Dusun Kapasan, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Suwandi membenarkan hal itu. Meski ada satu bego yang bekerja membuka jalur utama, namun peralatan untuk membantu membersihkan rumah warga tidak ada. (nal)
Ngaji
Zainal
Rabu, 25 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar